Belajar dari Jerman untuk Dorong Percepatan Dekarbonisasi Bangunan dan Industri di Indonesia

Siaran Pers

8_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia

Jakarta, 22 Oktober 2026 – Program Energi GIZ Indonesia & ASEAN memfasilitasi kegiatan kunjungan pembelajaran ke Jerman pada 10–19 Oktober 2026. Kunjungan pembelajaran ke Jerman ini berfokus pada tiga tema utama, yaitu dekarbonisasi industri, lingkungan binaan (Built Environment), dan sistem pendinginan berkelanjutan. Kegiatan ini melibatkan perwakilan kementerian, pemerintah kota, industri, dan organisasi terkait untuk mengunjungi perusahaan serta institusi di beberapa kota di Jerman, seperti Frankfurt, Karlsruhe, Freiburg, Stuttgart, dan Nuremberg guna mempelajari penerapan teknologi rendah karbon, kebijakan energi, dan praktik pengelolaan energi yang dapat menjadi referensi bagi delegasi dari Indonesia. 

 

Kebijakan dan Data sebagai Fondasi Dekarbonisasi Industri

Salah satu pembelajaran utama dari kunjungan ini adalah pentingnya komitmen dari manajemen perusahaan/direksi, implementasi kebijakan yang konsisten, didukung pemantauan konsumsi energi dan emisi.

Irvan dari PT Denso Indonesia menekankan bahwa keberhasilan dekarbonisasi membutuhkan komitmen regulator dan pelaku industri untuk menjalankan kebijakan secara konsisten.

“Kebijakan boleh tidak sempurna dan nantinya dapat di-review kembali. Namun, jika implementasinya tidak sesuai, maka proses perbaikan selanjutnya untuk menuju lebih baik bahkan sempurna tidak akan pernah terjadi,” ujar Irvan.

Dari sisi pengelolaan energi, Dewi Puspita Sari dari Kementerian Perindustrian menyoroti pentingnya penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan.

“Pelajaran penting bagi saya adalah penghematan energi dimulai dari data dan perencanaan yang baik. Perusahaan perlu mengetahui berapa energi yang digunakan, bagian mana yang paling boros, dan apa yang perlu diperbaiki,” jelas Dewi.

Selama kunjungan, peserta dari track Industri mempelajari praktik dekarbonisasi di berbagai sektor, mulai dari industri kimia dan farmasi seperti BASF, Merck, dan Boehringer Ingelheim, hingga manufaktur otomotif Mercedes-Benz dan teknologi industri TRUMPF. Pembelajaran mencakup pemanfaatan kembali panas buangan untuk proses industri lain, penggunaan teknologi digital sebagai pendukung sistem manajemen energi, pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber listrik maupun energi panas, serta penggunaan sistem kogenerasi (combined heat power) berbahan bakar biomassa untuk mendukung produksi energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. 

 

Mempelajari Sistem Pendingin yang Berkelanjutan

Sebagai bagian dari track pendingin, delegasi mengunjungi Chillventa di Nuremberg, salah satu pameran dagang terbesar di dunia untuk teknologi refrigerasi, pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC). Sejumlah produsen peralatan asli (OEM) terkemuka asal Jerman untuk komponen sistem pendingin, seperti Bitzer, Ziehl-Abegg, EBM-Papst, dan Güntner, memperkenalkan produk hemat energi serta menunjukkan peluang pasar di Indonesia untuk pengembangan sistem pendingin berkelanjutan. Penerapan sistem ini dapat berkontribusi pada peningkatan daya saing industri sekaligus perlindungan iklim.

Melalui kunjungan tambahan ke fasilitas pengguna akhir dengan kebutuhan pendinginan intensif, pusat komputasi Green IT Cube, serta fasilitas METRO di Mainz-Kastel, peserta mempelajari berbagai inovasi dalam sistem pendingin hemat energi, pemanfaatan refrigeran alami, dan peluang integrasi energi terbarukan. Pembelajaran ini menjadi referensi berharga bagi Indonesia untuk memperluas penerapan teknologi pendingin rendah emisi, yang didukung oleh kebijakan yang tepat, pengembangan keterampilan, dan akses terhadap pembiayaan.

 

Pengalaman Langsung untuk Mendorong Inovasi

Pembelajaran dari Jerman juga memberikan perspektif bagi pemerintah kota tentang bagaimana keterbatasan sumber daya dapat mendorong inovasi dalam pengelolaan energi.

Tri Wahyu Rubianto, perwakilan Pemerintah Kota Batam yang mengikuti track built environment, menyampaikan, “Keterbatasan sering kali menjadi pendorong lahirnya inovasi. Di Eropa, keterbatasan sumber daya energi justru mendorong pemerintah untuk mengembangkan berbagai solusi inovatif guna memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat”. Dua inovasi yang dimaksud adalah kompleks apartemen modular yang mengombinasikan Building Integrated Photovoltaic (BIPV) dengan material ramah lingkungan dan kompleks perumahan warga dengan panel surya yang dipasang di balkon (plug-in PV). 

Peserta juga mempelajari peran Karlsruhe Energy Agency, sebuah lembaga yang didanai oleh pemerintah kota dan pihak swasta, dalam memberikan konsultasi energi untuk warga dan mendukung perencanaan energi kota. Pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah di Indonesia untuk memperkuat perencanaan dan layanan konsultasi energi sesuai kebutuhan lokal.

Johannes Anhorn, Koordinator Dekarbonisasi Sektor Industri dan Bangunan, Program Energi GIZ Indonesia & ASEAN, menekankan bahwa pendekatan pengembangan kapasitas dalam kegiatan ini tidak sekadar berfokus pada pelatihan, tetapi juga pada pengalaman langsung.

“Program pengembangan kapasitas ini tidak dirancang sekadar sebagai pelatihan, tetapi juga memberikan pengalaman langsung. Dengan begitu, peserta dapat memahami penerapan di lapangan secara lebih mendalam dan membagikan pembelajaran tersebut kepada pihak lain,” ujarnya.

Melalui kunjungan ini, pembelajaran dari Jerman dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret untuk memperkuat efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, dan pengurangan emisi pada sektor bangunan dan industri di Indonesia.

 

Tentang SETI dan RE2COOL 

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Energi GIZ Indonesia & ASEAN, yang melaksanakan sejumlah proyek untuk mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia, termasuk proyek Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI), yang didanai oleh International Climate Initiative (IKI) dari Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir (BMUKN), serta komponen RE2COOL dalam proyek Green Energy, yang didanai oleh Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ).

Proyek SETI dilaksanakan oleh konsorsium yang terdiri atas GIZ, Yayasan Indonesia CERAH, Institute for Essential Services Reform (IESR), dan World Resources Institute (WRI) Indonesia. SETI bertujuan mendukung terwujudnya ekosistem kelembagaan, regulasi, dan pembiayaan yang efektif untuk mendorong transisi Indonesia menuju sistem energi berkelanjutan. Sementara itu, RE2COOL mendorong penerapan solusi pendinginan yang efisien dan rendah emisi di sektor industri dan komersial.

1_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
2_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
3_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
4_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
5_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
6_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
7_
8_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
9_Learning from Germany to Advance Decarbonisation of Buildings and Industry in Indonesia
0/0

Johannes Anhorn

Team Lead of Industrial Decarbonisation, Energy Programme - GIZ Indonesia & ASEAN
Wird geladen